Pelajaran3

Bismillah

Terkadang apa yang kita lihat tidak seperti apa yang kita rasakan

Tampaknya indah tapi sesungguhnya menyakitkan, tampak layu tapi sesungguhnya menyegarkan

Ukuran suatu kebahagiaan dan kesedihan hanya kita yang tau

Bersyukurlah dengan apa yang dimiliki pada hari ini dan pada saat ini

Berhentilah untuk menilai diri orang lain tapi nilailah diri kita sendiri, apakah semuanya sudah kita niatkan karna Lillahi atau hanya sekedar topeng semata?

Bercerminlah wahai diri yang penuh dosa, lihatlah dirimu apakah sudah pantas disebut sebagai muslimah sejati?

Bukankah setiap hari dibukakan pintu-pintu tobat untuk setiap dosa yang dilakukan, tapi kenapa seperti enggan memohon ampunan? Padahal ampunannya sangat luas dan pertolongannya sangat dekat jika kita mau berusaha dan berserah diri kepadaNya dari setiap apa yang kita lakukan.

Apakah masih ragu dengan janjiNya? Coba hitung berapa banyak nikmat yang diberikanNya kepada kita?! Nikmat menghirup udara, nikmat melihat, nikmat menulis, nikmat mendengar dan banyak sekali nikmat-nikmat lain yang diberikan kepada kita. Kita saja tak mampu menghitung berapa banyak nikmat yang diberikanNya. Lalu apa yang mau kita ragukan lagi?

Janganlah ragu karna janji Allah pasti benar maka bersabarlah untuk mendapatkan jawaban dari semua apa yang kita inginkan. Karna yang lebih mengetahui diri kita dan mengetahui masa depan kita hanyalah pemilik langit dan bumi. Sabarlah sampai sabar itu lelah mengiringi kita! Tetaplah percaya bahwa setiap apa-apa yang ada dimuka bumi ini terjadi atas izinNya. Berikanlah pengabdian terbaikmu sehingga semua malaikat akan mendoakan kebaikan untukmu.

Iklan

Pelajaran2

Bismillah

Hijrah, jalan menuju suatu kebenaran dan kebaikan. Proses yang sangat indah jika dijalani dengan keikhlasan dan ketulusan walaupun banyak sekali terpaan dan godaan yang menghampiri. Semua yang berhijrah pasti merasakan yang namanya godaan yang meruntuhkan kekukuhan hati. Bukankah begitu? Iya kegundahan hanya bagian dari setan yang tak ingin kita taat. Tapi ketika hati kita sudah kokoh dan yakin serta kita lawan bujuk rayu menyesatkan pasti kita bisa melewati fase demi fase. Semakin kita yakin semakin setan menjauh. Tahap hijrah hanya segelintir kegundahan. Ketika sudah menjajaki fase istiqomah itu yang paling sulit dan benaran sulit untuk tetap tegak pada ajaran Al Qur’an dan As Sunnah. Terkadang apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang ada. Disanalah ujian terberat, ujian yang begitu dahysat. Agar bisa istiqomah gampang asalkan kita konsisten aja dengan apa yang kita lakukan dan mencoba perlahan lahan untuk meningatkan apa yang mau kita lakukan.

.

.

.

Jika lelah jangan berhenti tapi berjalanlah perlahan percayalah selangkah kaki kita berjalan maka Allah akan berlari menghampiri kita

.

.

.

Tetaplah bersama Ilah yang sangat menyayangi hambaNya yang mau bertobat lagi bersabar dalam setiap ujian yang dihadapi

.

.

.

Tak perlu berputus asa dari setiap keputusan yang sudah digariskan kepada kita karna sesungguhnya RahmatNya begitu luas jika kita terus bersyukur dan bersyukur

Pelajaran1

Bismillah

Dulu menjadi kebanggaan kini berubah menjadi kemelut yang sangat meyakitkan. Semakin rumit dan semakin carut marut.

.

.

.

Apakah ini yang dinamakan sebuah persaudaraan seibu sebapak? Pantaskah untuk saling menyalahkan satu dengan lain tanpa tahu alasan yang jelas, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi?! Sudah pantaskah menjadi saudara yang mengayomi yang lainnya? Beruang tapi tak berilmukah?! Pernah tidak berusaha untuk menyelesaikan, bertanya secara langsung, duduk melingkar membahas apa sebenarnya terjadi? Apa yang harus dilakukan? Langkah apa yang baik untuk kedamaian bersama? Sadar tidak bahwa ibu bapak disana sangat sedih melihat keadaan generasi dibawahnya tak karuahan. Mungkin mereka ingin menjerit sekencang-kencangnya. Diskriminasi dan intimidasi terus saja terjadi jika semua tak bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak akan pernah usai jika hanya mendengarkan satu belah pihak yang pandai bersua dan pandai menjilat! Sampai kapanpun tak akan pernah usai jika engkau tak mau tahu dan tak pernah mau bertanya. Sampai kapanpun hanya kebencian yang tertanam didalam hati dan kekecewaan yang mendalam. Kalau masih saja begitu alangkah bersedihnya ibu bapak disana yang harusnya mereka bisa tenang tapi malah menjadi sengsara akibat ulah generasi penerus yang hanya memikirkan kehidupan pribadinya seorang diri!

.

.

.

Saudara sekandung adalah tempat kita berbagi senang susah suka duka, jika membenci janganlah membenci orangnya tetapi bencilah saja sifatnya, jika ia salah maka tegurlah ia dengan perkataan yang baik. Indahnya jika kita saling merangkul dan saling mendukung satu sama lain tanpa ada suatu kebencian. Bahagianya ibu bapak melihat kebersamaan yang terjalin dengan kasih dan sayang.